Manfaat Kubis

Kubis – Tanaman kubis termasuk jenis tanaman sayur mayur yang dimanfaatkan daunnya. Hampir semua kalangan mengenal dan menyukai sayur ini. Keluarga kubis-kubisan memiliki jenis yang cukup banyak. Yang lazim ditanam di Indonesia, antara lain kubis, kubis bunga, brokoli, kubis tunas, kubis rabi, dan kale.

Ciri-ciri:

  • Daunnya bulat, oval, sampai lonjong, membentuk roset akar yang besar dan tebal, warna daun bermacam-macam, antara lain putih (forma alba), hijau, dan merah keunguan (forma rubra).
  • Awalnya, daunnya yang berlapis lilin tumbuh lurus, daun-daun berikutnya tumbuh membengkok, menutupi daun-daun muda yang terakhir tumbuh.
  • Pertumbuhan daun terhenti ditandai dengan terbentuknya krop atau telur (kepala) dan krop samping pada kubis tunas (Brussel sprouts).
  • Selanjutnya, krop akan pecah dan keluar malai bunga yang bertangkai panjang, bercabang-cabang, berdaun kecil-kecil, mahkota tegak, berwarna kuning.
  • Buahnya buah polong berbentuk silindris, panjang 5-10 cm, berbiji banyak. Biji berdiameter 2-4 mm, berwarna cokelat kelabu.
  • Umur panennya berbeda-beda, berkisar dari 90 hari sampai 150 hari.
  • Daun kubis segar rasanya renyah dan garing sehingga dapat dimakan sebagai lalap mentah dan matang, campuran salad, disayur, atau dibuat urap.
  • Kubis dapat diperbanyak dengan biji atau setek tunas.

Penyebaran:

  • Tanaman kubis ditemukan sejak tahun 2000-1500 SM oleh orang-orang Mesir dan Yunani Kuno. Tanaman kubis budidaya berawal dari kubis liar yang tumbuh di sepanjang pantai Laut Tengah, Inggris, Denmark, dan sebelah Utara Perancis Barat serta pantai Glamorgan.
  • Pemeliharaan tanaman kubis pertama kali terjadi di Eropa. Pada abad IX, kubis sudah tersebar di benua Eropa dan di Amerika karena faktor kolonialisme dari Eropa. Pada abad XIX budidaya kubis dilakukan di Hokaido. Usaha tersebut membuahkan hasil sehingga pada tahun 1880-1900 produksi kubis di Jepang telah sanggup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
  • Di ASEAN sendiri, kubis di Filipina dikembangkan tahun 1961 dengan menggembangkan jenis kubis Yooshin dari taiwan.
  • Kubis di Indonesia massuk kira-kira pada abad XVII-XIX. Tidak ada keterangan yang pasti, namun diperkirakan dibawa oleh orang-orang Spanyol dan Belanda.
  • Sayuran ini dapat ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi dengan curah hujan rata-rata 850-900 mm

Kandungan:

  • Kubis segar mengandung air, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, besi, natrium, kalium, vitamin (A, C, E, tiamin, riboflavin, nicotinamide), kalsium, dan beta karoten. Selain itu, juga mengandung senyawa sianohidroksibutena (CHB), sulforafan, dan iberin yang merangsang pembentukan glutation, suatu enzim yang bekerja dengan cara menguraikan dan membuang zat-zat beracun yang beredar di dalam tubuh.
  • Tingginya kandungan vitamin C dalam kubis dapat mencegah timbulnya skorbut (scurvy). Adanya zat anthocyanin menyebabkan warna kubis dapat berubah menjadi merah. Kandungan zat aktifnya, sulforafan dan histidine dapat menghambat pertumbuhan tumor, mencegah kanker kolon, dan rektum, detoksikasi senyawa kimia berbahaya, seperti kobalt, nikel dan tembaga yang berlebihan di dalam tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan kanker. Kandungan asam amino dalam sulfurnya, juga berkhasiat menurunkan kadar kolesterol yang tinggi, penenang saraf, dan membangkitkan semangat.

Manfaat:
Kubis digunakan untuk pengobatan :

  • gatal akibat jamurcandida (candidiasis),
  • jamur di kulit kepala, tangan, dan kaki
  • kadar kolesterol darah tinggi,
  • radang sendi (artritis),
  • melindungi tubuh dari sinar radiasi, seperti sinar x-ray, komputer, microwave, dan televisi berwarna,
  • antidote pada mabuk alkohol (hangover), racun di hati,
  • menghilangkan keluhan prahaid (premenstrual sindrom),
  • meningkatkan produksi ASI,
  • mencegah tumor membesar,
  • mencegah kanker kolon dan rektum,
  • borok (ulcus) pada saluran cerna, dan
  • sulit buang air besar (sembelit).

Baca Juga Artikel Tentang :