Manfaat Umbi Gadung

Gadung (Dioscorea hispida Dennst) – suku gadung-gadungan (Dioscoreaceae) tergolong tanaman umbi-umbian yang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Gadung menghasilkan umbi yang dapat dimakan, namun mengandung racun yang dapat mengakibatkan pusing dan muntah apabila kurang benar pengolahannya. Produk gadung yang paling dikenal adalah dalam bentuk keripik meskipun rebusan gadung juga dapat dimakan. Umbinya dapat pula dijadikan arak (difermentasi) sehingga di Malaysia dikenal pula sebagai ubi arak, selain taring pelandok.

Di Indonesia, tumbuhan ini memiliki nama seperti janèng (Aceh), bitule (Gorontalo), gadu (Bima), gadung (Bali, Jawa, Madura, Sunda) iwi (Sumba), kapak (Sasak), salapa (Bugis) dan sikapa (Makassar)

Ciri-ciri :

  • Tumbuhan gadung berbatang merambat dan memanjat, panjang 5–20 m.
  • Arah rambatannya selalu berputar ke kiri (melawan arah jarum jam, jika dilihat dari atas). Ciri khas ini penting untuk membedakannya dari gembili (D. aculeata) yang memiliki penampilan mirip namun batangnya berputar ke kanan.
  • Gadung merambat pada tumbuhan berbatang keras.[7]
  • Batangnya kurus ramping, setebal 0,5–1 cm, ada yang berduri ada yang tidak berduri, hijau keabu-abuan.
  • Daun-daunnya terletak berseling, dengan tiga anak daun menjari, bentuk bundar telur atau bundar telur sungsang, tipis bagai kertas.
  • Bunga jantan terkumpul dalam tandan di ketiak; bunga betina majemuk berbentuk bulir.
  • Mahkota bunganya berwarna kuning, benang sarinya berjumlah enam, dan berwarna kuning juga.
  • Umbinya terbentuk dalam tanah, berjumlah banyak dan tak beraturan bentuknya, menggerombol dalam kumpulan hingga selebar 25 cm.
  • Sementara buahnya, berbentuk elips, berdaging, berdiameter ± 1 cm, dan berwarna coklat.
  • Ada beberapa varietasnya, di antaranya yang berumbi putih yang besar dikenal sebagai gadung punel atau gadung ketan (Jawa)), sementara yang kecil berlekuk-lekuk disebut gadung suntil dan yang berumbi kuning gadung kuning, gadung kunyit atau gadung padi.

Penyebaran :
Tanaman gadung berasal dari India dan Cina Selatan kemudian menyebar ke Asia Tenggara sampai dengan New Guinea. Tanaman gadung dapat tumbuh pada berbagai tipe dan jenis tanah seperti tanah merah, tanah hitam, lempung, kapur, ataupun tanah berpasir. Tanaman gadung tumbuh baik pada daerah yang dinaungi dan biasanya memang ditanam di bawah tegakan pepohonan. Gadung mudah dijumpai di daerah kapur seperti gunung kidul dan juga tanah berpasir seperti di parangtritis.

Kandungan Senyawa :
Alkaloid dioskorina, diosgenina, saponin, furanoid norditerpena, zat pati, dan tanin.

INDIKASI

  • Keputihan.
  • Kencing manis.
  • Kusta.
  • Mulas.
  • Nyeri empedu.
  • Nyeri haid.
  • Radang kandung empedu.
  • Rematik (nyeri persendian).
  • Kapalan (obat luar).

Peringatan
Pemakaian yang terlalu banyak, dapat menyebabkan keracunan. Keracunan Gadung berakibat kejang-kejang. Penawar sementara kloralhidrat atau kalium bromida.

Catatan
Gadung merupakan umbi yang beracun. Agar dapat dimakan perlu pengolahan, seperti berikut ini. Umbi dipotong tipis-tipis, kemudian direndam dalam air yang telah dibubuhi garam. Umbi terus dialiri air sampai air cuciannya tidak berwarna putih. Setelah itu dijemur di panas matahari.
Ada beberapa jenis Gadung, antara lain:

  • Gadung Bunga Wangi.
  • Gadung Kuning.
  • Gadung Kelan.
  • Gadung Padi (bunga tidak berbau).

Baca Juga Artikel Tentang :